Kamis, 18 Maret 2010

Puisi

Menuntut Hati
Malam menyembur lebih cepat
menghampiri keberangkatan sehari
mengungkapkan sesuatu begitu
hasrat tubuh terbit karena kerinduan
demikian menembus bentuk-bentuk lahir

Telungkup Duka
Mengatur nafas begitu pagi
tak kalah pahit dengan hati
air matanya meleleh
orang-orang tersentak membisu
tanpa sedetik pun membalas tatapan

Bingung
Sinar benar-benar hilang
bungapun layu tanpa surya
adakah titik terang yang mencari jalan
yang mampu menerjemahkan karang


Pesona malam
ketika angin berbisik
malam pun terbangun
terlihat susut dari jauh
bicara tentang sayup yang menggema
mengukus sewaktu dalam kenangan

Sepasang Gerakan
Dalam sepasang gerakan
serasa berjalan mengisyaratkan
dunia diam sepi pun bertemu

Suatu Rindu
Adalah gerimis yang memanjat
terjilat tangkai pagi itu
berpeluh nyanyian rindu
menuntut…
menuntut lewat pelupuk mata



Pulang
Pagi yang pulang dari perjalanan
melalui semesta di dalam terjaga
mengnyahkan kecemasan
member selimutnya dengan cahaya
gelombang pun tertawa
mendapat sari-sari cakrawala

Sebuah Kisah
Sebuah kisah menanggalkan kampung cahaya
jembatan-jembatan kerinduan
rangkaikan perjalanan indah
langit keperakan pun tersenyum senja

Harapan pelangi
Dalam sudut warna indah pelangi
membelai-belai sesobek harapan
bercumbu dengan liukan bayangan



Rasa Percintaan
Ribuan cabang memberi kesan
hangatkan retina mutiara mataku
terlantun hadir ke dalam rasa