PENDAHULUAN
- Latar Belakang
Dakwah adalah pekerjaan mengkomunikasikan Islam kepada manusia. Secara lebih operasional, dakwah adalah menhajak atau mendorong manusia kepada tujuan yang definitif dan rumusannya bisa diambil dari Al’Qur’an, hadist atau dirumuskan oleh Da’i, sesuai dengan ruang lingkup dakwahnya. Dakwah ditujukan kepada manusia, sementara manusia bukan hanya memiliki telinga dan mata tetapi makhluk yang berjiwa, berpikir, dan merasa, yang bisa menerima dan menolak sesuai dengan persepsinya terhadap dakwah yang diterima.
Manusia sebagai objek dakwah baik sebagai individu maupun kelompok, memiliki karakteristik yang berbeda-beda, sebagaimana juga seorang Da’I ada yang berpikiran sempit dan ada yang berwawasan luas. Da’I tidak cukup hanya menguasai materi dakwah tetapi juga memahami karakteristik manusia. Selain itu dakwah juga harus disampaikan secara persuasife, yaitu dengan menggunakan cara berpikir masyarakat yang didakwahi, sehingga mereka menerima seruan Da’i.
Dalam makalah ini akan dibahas lebih lanjut tentang subjek dakwah atau Da’i sampai ilmu yang harus dikuasai oleh seorang Da’I serta karakteristik seorang Da’I yang dilihat dari sifat dan sikapnya dalam meyampaikan dakwah.
- Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang maslah dalam makalah ini dapat diidentifikasikan sebagai berikut:
- Pengertian subjek dakwah (Da’i).
- Prinsip-prisip dalam dakwah.
- Sifat-sifat yang harus dimiliki seorang Da’i.
- Sikap seorang Da’i.
- Ilmu yang harus dimiliki seorang Da’i.
- Rumusan Masalah
Berdasarka identifikasi masalah dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Apa pengertian subjek dakwah (Da’i)?
2. Bagaimana prinsip-prisip dalam dakwah?
- Sifat-sifat apa saja yang harus dimiliki seorang Da’i?
- Bagaimana sikap seorang Da’i?
- Ilmu apa saja yang harus dimiliki seorang Da’i?
- Tujuan
Tujuan dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
- Untuk mengetahui pengertian subjek dakwah (Da’i).
- Untuk mengetahui prinsip-prisip dalam dakwah.
- Untuk mengetahui sifat-sifat yang harus dimiliki seorang Da’i.
- Untuk mengetahui sikap seorang Da’i.
- Untuk mengetahui ilmu yang harus dimiliki seorang Da’i.
SUBJEK DAKWAH
(DA’I)
A. Pengertian Da’i
Da’i adalah orang yang kerjanya berdakwah atau pendakwah melalui kegiatan dakwah, para pendakwah menyebarluaskan ajaran agama. Juru dakwah (Da’i) merupakan salah satu faktor dalam kegiatan dakwah yang menempati posisi yang sangat penting dalam menentukan berhasil tidaknya kegiatan dakwah.setiap muslim yang hendak menyampaikan dakwah khususnya juru dakwah (Da’i) professional yang mengkhususkan diri dibidang dakwah seharusnya memiliki kepribadian yang baik untuk menunjang keberhasilan dakwah, apakah kepribadian yang bersifat rohaniah atau kepribadian yang bersifat fisik. Hal ini Allah isyaratkan dalan firman-Nya QS Al-Ahzab ayat 21:
“ Sesungguhnya telah ada pada diri Rosulullah itu Suri Tauladan yang baik bagi kamu (yaitu) bagi orang yang mengharapkan (Rahmat) Allah dan (kedatangan) hari akhir dan dia banyak menyeebut Allah”
B. Prinsip-Prinsip Dakwah
Seorang Da’i harus terlebih dahulu menjalankan petunjuk agama sebelum memberi petunjuk kepada orang lain. Oleh karena itu, untuk menjadikan dakwah lebih efektif, masyarakat dakwah khususnya para Da’i harus memahami prinsip-prinsip dakwah sebagai berikut:
- Berdakwah itu harus dimulai dari diri sendiri dan menjadikan keluarganya sebagai contoh dalam masyarakat.
- Secara mental, Da’i harus siap menjadi pewaris para nabi, yakni mewarisi perjuangan.
- Da’i harus yang menyadari bahwa masyarakat membutuhkan waktu untuk dapat memahami pesan dakwah.
- Da’i juga harus menyelami alam pikiran masyarakat.
- Dalam menghadapi kesulitan, Da’i harus bersabar.
- Citra positif dakwah akan sangat melancarkan komunikasi dakwah.
- Da’i harus memperhatikan tertib urutan pusat perhatian dakwah, yaitu priyoritas pertama berdakwah sehubungan dengan hal-hal yang bersifat universal yakni Al-khair, Al-ma’ruf baru kemudian ke amr ma’ruf dan nahi munkar.
C. Sifat-Sifat Da’i
- Beriman dan Bertaqwa kepada Allah SWT.
Kepribadian Da’i yang terpenting adalah iman dan taqwa kepada Allah SWT. Sifat ini merupakan dasar utama pada akhlak Da’i. seorang Da’i tidak mungkin menyeru Mad’u-nya (sasaran dakwah) beriman kepada Allah SWT.
Dijelaskan dalam firman Allah QS.Al Baqarah ayat 44 yang artinya:
“Apakah kamu menyuruh manusia berbuat kebaikan padahal kamu lupa terhadap dirimu sendiri sedangkan kamu sendiri membaca kitab Tuhan apakah kamu tidak berfikir”.
2. Ahli Tobat
Sifat tobat dalam diri Da’i, berarti ia harus mampu untuk menjaga atau takut untuk berbuat maksiat atau dosa dibandingkan orang-orang yang menjadi mad’u-nya. Seperti yang diriwayatkan oleh Imam Bukhairi dari Abu Huraiah:
“Abu Hurairah berkata, “aku mendengar Rasulullah bersabda, “sesungguhnya aku mohon ampun dan bertobat kepada Allah dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali”.
3. Ahli Ibadah
Seorang Da’i adalah mereka yang selalu beribadah kepada Allah dalam setiap gerakan, perbuatan, dan perkataan dimanapun dan kapanpun. Allah berfirman dalam QS Al-An’am ayat 162:
“Katakanlah: “sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam”
4. Amanah dan Shidiq
Amanah (tepercaya) dan Sidiq (jujur) adalah sifat utama yang harus dimiliki oleh seorang da’i sebelum sifat-sifat yang lain, karena itu merupakan sifat yang dimiliki oleh seluruh nabi dan rosul.
5. Pandai Bersyukur
Seorang Da’i yang baik adalah Da’i yang mampu menghargai nikmat-nikmat Allah dan menghargai kebaikan orang lain.
- Tulus Ikhlas dan Tidak Mementingkan Pribadi
Niat yang tulus tanpa pamrih duniawi, salah satu syarat yang mutlak yang harus dimiliki oleh seorang Da’i, sebab dakwah adalah suatu pekerjaan yang bersifat ubudiyah, yakni amal perbuatan yang berhubungan denagn Allah SWT.
- Ramah dan Penuh Pengertian
Seorang Da’i dituntut untuk memilliki kepribadian yang menarik seperti ramah, sopan, ringan tangan, dan lain-lain untuk menunjang keberhasilan dakwah.
- Tawaddu (Rendah Hati)
Sifat Tawaddu (rendah hati) dalam hal ini adalah sopan dalam pergaulan, tidak sombong, tidak suka menghina, dan mencela orang lain.
- Sederhana dan Jujur
Kesederhanaan seorang Da’i adalah tidak bermegah-megahan, angkuh dan sebagainya, sehingga dengan sifat sederhana ini orang tidak merasa segan dan takut kepadanya. Sedangkan kejujuran adalah penguat dari sifat sederhana.
- Tidak Memiliki Sifat egois
- sabar dan Tawakal
- Memiliki Jiwa Toleran
- Sifat Terbuka atau Demokratis
- Tidak Memiliki Penyakit Hati
D. Sikap Seoarang Da’i
Sikap dan tingkah laku Da’i merupakan salah satu faktor penunjang keberhasilan dakwah, sikap-sikap ideal yang harus dimiliki oleh para Da’i sebagai berikut:
- Berakhlak Mulia
Berbudi pekerti yang baik(berakhakul karimah) adalah syarat mutlak yang harus dimiliki oleh siapapun terlebih-lwbih seorang Da’i.
- Ing ngarso sung tulhodho, Ing madyo mangun karso, Tut wuri handayani
Ing ngarso sung tulhodho berarti seorang Da’i harus dapat menjadi teladan yang baik bagi masyarakat. Ing madyo mangun karso berarti bila seorang Da’i berada ditengah-tengah massa hendaklah dapat memberikan semangat agar mereka senantiasa mengikuti semua ajakan Da’i. Tut wuri handayani berarti bila seorang Da’I bertempat dibelakang, Da’i hendaknya mengikuti Mad’u nya dengan bimbingan-bimbingan agar lebih meningkatkan keimanan.
- Disiplin dan Bijaksana
Disiplin sangat dibutuhkan oleh seorang Da’i dalam mengemban tugasnya sebagai muballig. Begitupun bijaksana dalam menjalankan tugas sangat berperan dalam menunjang keberhasilan dakwah.
- Wara’ dan Berwibawa
Sikap wara’ adalah menjauhkan diri dari pernuatan-perbuatan yang kurang berguna dan mengindahkan amal saleh, sikap ini dapat menimbulkan kewibawaan seorang Da’i. sebab kewibawaan merupakan fakror yang mempengaruhi seorang untuk percaya menerima ajakan.
5. Berpandangan Luas
Seorang Da’i dalam menentukan strategi dakwahnya sangat perlu berpandangan jauh tidak fanatic pada satu golongan saja dan waspada dalam menjalankan tugasnya.
- Berpengetahuan yang Cukup
Seorang Da’i sebaiknya dilengkapi dengan ilmu pengetahuan agar pekerjaannya dapat mencapai hasil yang efektif dan efisien.
- Ilmu Yang Harus Dimiliki Seorang Da’i
- Da’i harus mempunyai kesempurnaan pengetahuan dalam hal “yang didakwahkan” yaitu mengetahui Al Qur’an, As Sunnah, dan berbagai rupa hukum.
- Da’i harus mempunyai kesempurnaan pengetahuan dalam hal “ keadaan umat” yang dihadapkan seruan kepadanya.
- Da’i harus mengetahui sejarah umum.
- Da’i harus mengetahui ilmu bumi.
- Da’i harus mengetahui ilmu jiwa.
- Da’i harus mengetahui ilmu akhlak.
- Da’i harus mengetahui ilmu masyarakat.
- Da’i harus mengetahui ilmu politik imternasional.
- Da’i harus mengetahui bahasa umat yang dihadapi.
- Da’i harus mengetahui ilmu umum.
PENUTUP
Dakwah dalam Islam merupakan tugas yang sangat mulia dan bukanlah pekerjaan yang mudah harus dilakukan dengan penuh persiapan dan penuh tanggungjawab. Dalam menyampaikan dakwah seorang Da’i menempati posisi yang sangat penting dalam menentukan berhasil atau tidaknya kegiatan dakwah. Untuk membuat suatu proses dakwah sesuai dengan yang diharapkan, seorang Da’i harus memiliki sifat-sifat seperti: beriman dan bertakwa kepada Allah, ahli tobat, ahli ibadah, amanah, bersyukur, ikhlas, ramah, rendah hati, jujur, sabar, toleransi, demokratis, dan tidak memiliki penyakit hati. Selain itu, seorang Da’i juga harus memiliki sikap berahlak mulia, ing ngarso sung tulhodho, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani, disiplin dan bijaksana, berwibawa, berpandangan luas dan sebagainya. Kegiatan dakwah yang dilakukan oleh seorang Da’i selain memiliki kepribadian sifat dan sikap yang baik Da’i harus memiliki kesempurnaan dalam ilmu pengetahuan seperti: ilmu sejarah, ilmu jiwa, ilmu bumi, ilmu ahlak, ilmu masyarakat dan sebagainya.
Menegakkan dan menyalurkan ilmu dakwah kepada umat Islam atau objek dakwah merupakan kegiatan yang membutuhkan pengetahuan serta persiapan, baik persiapan rohaniah maupun persiapan fisik demi tercapainya tujuan dakwah islamiah.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin. 2004. Psikologi Dakwah Pengantar studi. Jakarta: Bumi Aksara.
Ash Shiddieqy, Hasbi. 1952. Al Islam (Jilid II). Jakarta: Mutiara.
Muchsin Effendi, Lalu. 2006. Psikologi Dakwah. Jakarta: Kencana.
Nasir, Haedar. 1990. Akhlak Pemimpin Muhammadiyah. Yogyakarta: PP Muhammadiyah Badan Pendidikan Kader.
Pahlawan, Khatib. 2005. Kepemimpinan Islam dan Dakwah. Jakarta: Sinar Grafika Offset.
Rochmani. 1983. Kepemimpinan Umat Islam. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Agama Departemen Agama RI.