Jumat, 26 Maret 2010

Subjek Dakwah

Pendahuluan
Dakwah adalah perkerjaan komunikasikan pesan Islam kepada manusia secara lebih operasional. Dakwah adalah menngajak atau mendorong manusia kepada tujuan yang definitif, yang rumusannya bisa diambil dari Al – Qura’n atau Hadist atau dirumuskan oleh da’I, sesuai dengan ruang lingkup dakwahnya. Dakwah ditujukan kepada manusia, sementara manusia bukan hanya telinga dan mata tetapi makhluk yang berjiwa dan makhluk yang berakal, dan berfikir dan merasa yang bisa menerima dan bisa menolak sesuai dengan persepsinya terhadap dakwah yang diterima.
Kegiatan dakwah sebagai suatu bagian dari pada kegiatan bimbingan hidup beragama dinegara kita masih memerlukan metode yang efektif dan efisien sejalan dengan kebutuhan perkembangan masyarakat yang semakin maju. Manusia sebagai objek dakwah (mad’u), baik sebagai individu maupun sebagai kelompok memiliki karakteristik yang berbeda-beda, sebagaimana juga da’I, ada yang berpikiran sempit dan ada juga yang berwawasan luas. Da’I tidak cukup hanya menguasai materi dakwah, tetapi juga memahami karakteristik manusia yang menjadi mad’u.


Pembahasan

Pengertian objek dakwah atau sasaran dakwah adalah segenap manusia baik yang telah menerima islam sebagai agamanya maupun yang belum menerimanya. Manusia yang merupakan individu atau bagian dari komunitas tertentu ( mad’u) merupakan salah satu unsur dakwah.
Menurut Hafi , objek ditinjau dari segi jumlahnya dapat di bagi menjadi :
a. Individu ( perorangan)
b. Kelompok, dimana sasranya adalah orang banyak.
Objek ditinjau dari segi profesinya:
a. Sebagai petani atau nelayan
b. Sebagai pedagang
c. Sebagai buruh
d. Sebagai abri
e. Sebagai pegawai negri
f. Sebagi pekerja swasta
g. Sebagai pendidik
h. Sebagai campuran
Objek ditinjau dari segi pendidikannya:
a. Tidak berpendidikan
b. Berpendidikan sekolah dasar
c. Berpendidikan lanjutan menengah/ atas
d. Berpendidikan tinggi
e. Campuran
Objek ditinjau dari segi tingkatan umur:
a. Kalangan anak-anak
b. Kalangan pemuda pemudi atau remaja
c. Kalangan dewasa
d. Kalangan tua
e. Campuran
Objek ditinjau dari segi jenis kelamin:
a. Wanita
b. Pria
c. Campuran
Objek ditinjau dari segi lingkungannya:
a. Lingkungan rumah tangga
b. Lingkungan sekolah
c. Lingkungan masyarakat
Objek dakwah ditinjau dari segi tingkatan sosial ekonominya:
a. Tingkat ekonomi rendah
b. Tingkat ekonomi cukup
c. Tingkat ekonomi tinggi
d. Campuran
Objek ditinjau dari segi macam keagamaannya:
a. Terdiri dari orang-orang muslim
b. Terdiri dari orang-orang nonmuslim
c. Campuran
Objek ditinjau dari tingkatan keagamaannya:
a. Muslim sekedar nama
b. Muslim yang tidak aktif
c. Muslim yang aktif
d. Campuran
Objek ditinjau dari segi daerah pemukimannya:
a. Daerah pesisir
b. Daerah pedalaman , pegunungan, daerah transmigrans
c. Daerah perkotaan
Kemungkinan-kemungkinan yang timbul dari objek saat berlangsungnya proses dakwah yaitu :
1. Kemungkinan yang positif, antara lain :
a. Mereka ingin menjadi muslim yang baik
b. Mereka ingin meningkatkan pengetahuan dan pengalaman
c. Mereka mendengar untuk mengambil hikmah
d. Mereka ingin mengadakan perbandingan
2. Kemungkinan yang negatif, antara lain:
a. Ingin memperkuat atau mempertahankan ketidakmuslimannya
b. Ingin mencoba da’i yang bersangkutan
c. Ingin membantah atau memberi sanggahan
d. Mendengar dengan paksa
Agus Sujono dalam Faizah (2009:72) menyatakan bahwa secara psikologis manusia sebagai objek dakwah dibedakan oleh berbagai aspek :
1. Sifat-sifat kepribadian, yaitu adanya sifat-sifat manusia penakut, pemarah, suka bergaul, peramah, sombong dan lain-lain.
2. Inteligensi, yaitu aspek kecerdasanseseorang mencangkup kewaspadaan, kemampuan belajar, kecepatan berfikir, kesanggupan untuk mengambil keputusan yang tepat dan cepat, kepandaian menangkap dan menglah kesan-kesan atau maslah, dan kemampuan mengambil kesimpulan.
3. Pengetahuan
4. Keterampilan
5. Nilai-nilai
6. Peranan
Masih menurut Faizah (2009:75) masyarakat yang merupakan sasaran dakwah meliputi masyarakat yang dilihat dari berbagai segi :
1. Sasaran yang menyangkut kelompok masyarakat dilihat dari segi sosiologis, berupa masyarakat terasing, pedesaan, kota besar dan kecil serta masyarakat di daerah marginal dari kota besar.
2. Sasaran yang menyangkut golongan masyarakat di lihat dari segi struktur kelembagaan berupa masyarakat, pemerintah, dan keluarga.
3. Sasaran yang berupa kelompok masyarat dilihat dari segi sosiokultural berupa golongan priyayi, abangan, dan santri. Klasifikasi ini terutama terletak dalam masyarakat utama.
4. Sasaran yang berhubungan dengan golongan masyarakat dilihat dari segi tingkat usia berupa golongan anak-anak, remaja, dan orang tua.
5. Sasaran yang berhubungan denagn golongan masyarakat dilihat dari segi okupasional (profesi atau pekerjaan) berupa golongan petani,
6. Sasaran yang menyangkut golongan masyarakat dilihat dari segi tingkat hidup social-ekonomis berupa golongan orng kaya menengah, dan miskin
7. Sasaran yang menyangkut kelompok masyarakat dilihat dari segi jenis kelamin(sex) berupa golongan pria, wanita dan sebagainya.
8. Sasaran yang berhubungan dengan golongan di lihat dari segi khusus berupa golongan masyarakat tuna susila,tuna wisma, tuna karya, nara pidana dan sebagainya.





Kesimpulan

Pengertian objek dakwah atau sasaran dakwah adalah segenap manusia baik yang telah menerima islam sebagai agamanya maupun yang belum menerimanya. Manusia yang merupakan individu atau bagian dari komunitas tertentu ( mad’u) merupakan salah satu unsur dakwah.
Dalam berdakwah setiap tempat dilakukan secara berbeda-beda. Misalnya daerah pesisir berbeda dengan pegunungan, berbeda pula dengan daerah pedalaman dan perkotaan. Menurut para ahli objek dakwah dapat diklasifikasikan menurut tempat dan sasarannya sehingga dakwah dapat dilakukan dengan tepat.

Klasifikasi Wacana

Klasifikasi wacana berdasarkan tujuan :

a. NARASI
Ditulis dengan tujuan untuk menceritakan suatu kejadian atau peristiwa kepada pembaca, sehingga pembaca mendapatkan informasi selengkapnya tentang apa peristiwanya, bagaimana kejadiannya, dan bagaimana kronologinya. Dalam wacana narasi harus ada unsur waktu bahkan unsur pergeseran waktu itu sangat penting. Unsur pelaku atau okoh merupakan pokok yang dibicarakan, sedang unsur peristiwa adalah hal-hal yang dialami oleh sang pelaku.
b. DESKRIPSI
Penulis bertujuan menggambarkan atau memaparkan segala sesuatu kepada pembaca agar memperoleh gambaran atau deskripsi secara utuh sebagaimaan kondisi atau keadaan yang sebenarnya. Ciri khas wacana deskripsi ditandari dengan penggunaan kata-kata atau ungkapan yang bersifat deskriptif, seperti rambutnya ikal, matanya biru, dan hidungnya mancung. Deskripsi berbeda dengan eksposisi. Deskripsi lebih dipusatkan pada penampilan barang, sedangkan eksposisi memusatkan uraiannya pada hakikat barang.
c. EKSPOSISI
Digunakan untuk menjelaskan segala sesuatu kepada pembaca tentang suatu objek, sehingga pembaca memperoleh pandangan, dan atau pengetahuan tentang objek tersebut. Penjelasan tentang pertalian antara objek yang satu dan yang lain, struktur suatu benda, karakter manusia, atau binatang, biasanya juga disampaikan dengan wacana eksposisi. Wacana eksposisi menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan kata tanya bagaimana. Oleh karena itu, wacana tersebut dapat digunakan untuk menerangkan proses atau prosedur suatu aktivitas.
d. ARGUMENTASI
Digunakan penulis untuk meyakinkan pembaca akan kebenaran suatu objek, sehingga pembaca mendapatkan kepastian tentang kebenaran itu. Wacana argumentasi berfungsi utama untuk membuktikan yang dilakukan dengan dua metode, yaitu argumentasi direduksi atau disusutkan hingga menjadi atau berdasarkan suatu ilmu yang dikenal sebagai logika dan argumentasi adakalanya berhubungan dengan persoalan kebijakan yang jelas harus dibedakan dengan fakta. Elemen pokok wacana argumentasi ada tiga, yaitu (1) pernyataan, (2) alasan, dan (3) pembenaran. Sedangkan elemen pelengkapnya adalah (1) pendukung, (2) modal, dan (3) sanggahan.
e. PERSUASI
Digunakan untuk mempengaruhi pembaca akan suatu objek agar pembaca memiliki sikap dan pandang dan tertentu sesuai dengan kehendak penulis sehingga penulis benar-benar menghindarkan diri dari adanya konflik atau pertentangan pendapat. Fokus dalam wacana persuasi bukan pada kebenaran suatu objek melainkan lebih pada sikap atau pandangan pembacanya dengan menggunakan aspek-aspek psikologis.

Wacana

Wacana dipahami dari 2 sudut pandang :
a. Hierarki kebahasaan
Sebagai satuan kebahasaan yang berada pada tataran di atas kalimat yang sudah mengandung tema.

b. Tujuan penulisan
Bertujuan untuk menjelaskan sesuatu, meyakinkan, atau membuktikan suatu kebenaran, menggambarkan sesuatu, menceritakan sesuatu, dan mempengaruhi pembaca.

cara mengutip

PENGUTIPAN
Pengutipan adalah pengambilan teori, konsep, ide atau temuan dari tulisan orang lain.
Pengutipan bisa dilakukan secara langsung dan tidak langsung.
Contoh kutipan langsung kurang dari 4 baris
Lyons dalam karangannya yang lain menyatakan, “…vocabulary words constitute one subciass of what … we are calling lexeme” (1977:19). Lebih lanjut ia menyatakan bahwa “… lexemes are the words and phrases that a dictionary would list under a separate entry” (1997:23)
Contoh kutipan tidak langsung :
Sehubungan dengan hal itu Lyons (1977:19) menyatakan bahwa kata-kata di dalam leksikon merupakan suatu subklas yang disebut leksem. Lebih lanjut dinyatakan pula bahwa leksem adalah kata-kata atau frasa-frasa yang didaftar di dalam kamus di bawah entri yang berbeda (Lyons, 1997:23)
PENULISAN DAFTAR PUSTAKA
Kepustakaan yang ditulis di dalam daftar pustaka ada bermacam-macam: buku, artikel dalam jurnal, artikel dalam majalah ilmiah, artikel dalam surat kabar, laporan penelitian, skripsi, tesis, disertasi, dan sejenisnya.
1. Buku
Nama belakang pengarang, koma, nama depan pengarang atau singkatannya, titik, tahun terbitan, titik, judul buku (dicetak miring), titik, nama kota penerbitan, titik dua, nama penerbit, titik
2. Artikel Jurnal atau Majalah Ilmiah
Nama belakang pengarang, koma, nama depan pengarang atau singkatannya, titik, tahun penerbitan, titik, judul artikel, titik, nama jurnal, koma, nomor jurnal, koma, nomor-nomor halaman dalam jurnal, titik.
3. Karya Ilmiah yang tidak diterbitkan
4. Dokumen Resmi

Kamis, 18 Maret 2010

Puisi

Menuntut Hati
Malam menyembur lebih cepat
menghampiri keberangkatan sehari
mengungkapkan sesuatu begitu
hasrat tubuh terbit karena kerinduan
demikian menembus bentuk-bentuk lahir

Telungkup Duka
Mengatur nafas begitu pagi
tak kalah pahit dengan hati
air matanya meleleh
orang-orang tersentak membisu
tanpa sedetik pun membalas tatapan

Bingung
Sinar benar-benar hilang
bungapun layu tanpa surya
adakah titik terang yang mencari jalan
yang mampu menerjemahkan karang


Pesona malam
ketika angin berbisik
malam pun terbangun
terlihat susut dari jauh
bicara tentang sayup yang menggema
mengukus sewaktu dalam kenangan

Sepasang Gerakan
Dalam sepasang gerakan
serasa berjalan mengisyaratkan
dunia diam sepi pun bertemu

Suatu Rindu
Adalah gerimis yang memanjat
terjilat tangkai pagi itu
berpeluh nyanyian rindu
menuntut…
menuntut lewat pelupuk mata



Pulang
Pagi yang pulang dari perjalanan
melalui semesta di dalam terjaga
mengnyahkan kecemasan
member selimutnya dengan cahaya
gelombang pun tertawa
mendapat sari-sari cakrawala

Sebuah Kisah
Sebuah kisah menanggalkan kampung cahaya
jembatan-jembatan kerinduan
rangkaikan perjalanan indah
langit keperakan pun tersenyum senja

Harapan pelangi
Dalam sudut warna indah pelangi
membelai-belai sesobek harapan
bercumbu dengan liukan bayangan



Rasa Percintaan
Ribuan cabang memberi kesan
hangatkan retina mutiara mataku
terlantun hadir ke dalam rasa

Senin, 15 Maret 2010

ESENSI KEJIWAAN TOKOH PEREMPUAN

ESENSI KEJIWAAN LIMA TOKOH PEREMPUAN DALAM LIMA NOVEL TERBITAN 2000-2009

Disusun Oleh :
Ari Dwi Puspita
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN
YOGYAKARTA
2009
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Novel sebagai bentuk karya satra merupakan jalan hidup yang di dalamnya terjadi peristiwa dan perilaku yang dialami dan diperbuat manusia (tokoh) (Siswantoro 2005:29). Novel merupakan prosa fiksi yang berisi tentang kehidupan tokohnya dari awal hingga akhir. Prosa fiksi menurut Aminudin (2002:66) yaitu kisaran atau cerita yang diemban oleh pelaku-pelakku tertentu dengan pemeranan, latar serta tahapan dan rangkaian cerita tertentu yang bertolak dari hasil imajinasi pengarangnya sehina menjalin suatu cerita. Novel sendiri merupakan gam baran hudup tokoh yang menceritakan hampir keseluruhan perjalanan hidup tokoh. Penokohan serta karakter tokoh dalam novel digambarkan dengan lengkap atau jelas oleh pengarang. Setiap tokoh juga diberi gambaran fisik dan kejiwaan yang berbeda-beda sehingga cerita tersebut seperti nyata atau menjadi hidup. Dari segi kejiwaan, sastra bisa dipelajari dan ditelaah dengan menggunakan teori psikologi.
Dunia fiksi merupakan bayangan hidup nyata yang setiap tokohnya punya kejiwaan dan kepribadian yang berbeda. Kejiwaan dan kepribadian dalam novel bisa dibedah menggunakan teori psikologi dan sastra terdapat pada objek yang diteliti, ilmu psikologi meneliti langsung kasus kejiwaan sehingga akan lebih luas sebab akibatnya, sedangkan sastra hanya terbatas teks yang ada dalam karya sastra. Yang menjelaskan perilaku dan kepribadian tokoh terbatas dari teks sehingga peneliti harus menguasai ilmu psikologi yang digunakannya. Seperti pendapat Siswantoro (2005:31) perilaku menjadi data dan fakta empiris yang harus dimunculkan oleh analisist atau pembaca ataupun peneliti sastra dengan syarat bahwa mereka memiliki teori-teori psikologi yang memadai di dalam usaha bedah investigasi. Tetapi tidak semua tokoh dijelaskan secara detail atau terperinci biasanya hanya tokoh utama yang dijelaskan.

I.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan diatas, maka permasalahan yang ada dapat dirumuskan sebagai berikut:
a. Bagaimana kepribadian dan kejiwaan tokoh utama dalam kelima novel angkatan tahun 2000-2009?
b. Bagaimana hubungan novel angkatan 2000-2009 dengan realita kehidupan?

I.3 Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
a. Mendeskripsikan kepribadian dan kejiwaan tokoh utama dalam kelima novel angkatan tahun 2000-2009.
b. Mendeskripsikan hubungan novel angkatan 2000-2009 dengan realita kehidupan.

II. KAJIAN TEORI
Renne wellek dan Austin warren (1962: 81-82) menunjukkan empat model pendekatan psikologis, yang dikaitkan dengan pengarang, proses kreatif, karya sastra, dan pembaca. Meskipun demikian, pendekatan Psikologis pada dasarnya berhubungan dengan tiga gejala utama, yaitu : pengarang, karya sastra, dan pembaca. Dengan pertimbangan bahwa pendekatan psikologis lebih banyak berhubungan dengan pengarang dan karya sastra.
Oleh karena itu, Wellek dan Warren (1962-81) membedakan analisis psikolologis yang pertama menjadi dua macam, yaitu studi psikologi yang semata- mata berkaitan dengan pengarang, seperti kelainan kejiwaan, sebagai jenis gejala neurosis, sedangkan studi yang kedua berhubungan dengan inspirasi, ilham, dan kekuatan-kekuatan super natural lainnya. Dalam analisis strukturalisme, di mana terjadi penolakan terhadap subjek manusia, unsur-unsur yang berkaitan dengan pengarang secara keseluruhan ditolak sebab dianggap sebagai kekeliruan biografis. Menurut strukturalisme, analisis karya sastra adalah analisis secara otonom, karya sastra dianggap sebagai entitas yatim piatu.
Pada dasarnya psikologi sastra memberikan perhatian pada masalah yang kedua, yaitu pembicaraan dalam kaitannya dengan unsur-unsur kejiwaan tokoh-tokoh fiksional yang terkandung dalam karya sastra. Sebagai dunia dalam kata karya sastra memasukkan berbagai aspek kehidupan kedalamnya, khususnya manusia. Pada umumnya, aspek-aspek kemanusiaan inilah yang merupakan objek utama psikologi sastra, sebab semata-mata dalam diri manusia itulah, sebagai tokoh –tokoh, aspek kejiwaan dicangkokan dan diinvestasikan. Dlam analisis, pada umumnya yang menjadi tujuan adalah tokoh utama, tokoh kedua, tokoh ketiga, dan seterusnya. Studi psikologi yang terakhir berkaitan dengan sosiolagi sastra dan resepsi sastra , sebagai psokologi sosial.
Pendekatan Psikologis awal lebih dekat dengan pendekatan biografis dibandingkan dengan pendekatan sosiologis sebab analisis yang dilakukan cenderng memanfaatkan data-data personal. Proses kreatif merupakan salah satu model yang banyak dibicarakan dalam rangka pendekatan psikologis. Karya sastra dianggap sebagai hasil aktivitas penulis, yang sering dikaitkan dengan gejala-gejala kejiwaan, seperti obsesi, kontemplasi, sublimasi, bahkan sebagai neurosis. Oleh karena itulah, karya sastra disebut sebagai salah satu gejala (penyakit) kejiwaan. Pendekatan psikologis kotemporer, sebagaimana dilakukan oleh Mead, Cooley, Lewin dan Skinner (Schellenberg, 1997), mulai memberikan perhatian pada interaksi antar individu, sebagai interaksi simbolis, sehingga disebut sebagai analisis psikologis social.
Freud yakin bahwa kepribadian tersusun dari tiga sistem utama dan setiap sistem mempunyai fungsinya sendiri. Sistem tersebut yaitu:
1. ID
ID merupakan bagian kepribadian yang paling primitif, yang sudah ada sejak lahir. ID terdiri dari impuls (atau dorongan) biologis dasar. ID menuntut pemuasan impuls dengan segera. ID berusaha menghindari rasa sakit dan memperoleh kesenangan tanpa mempedulikan situasi eksternal.
2. EGO
Anak-anak segera belajar bahwa impuls mereka tidak dapat selalu dipuaskan dengan segera. Ego mengikuti prinsip realitas. Pemuasan impuls harus ditunda sampai ditemukan kondisi lingkungan yang tepat.
3. SUPER EGO
Gambaran internalisasi nilai dan moral masyarakat yang diajarkan orangtua dan orang lain pada anak. Pada dasarnya super ego merupakan hati nurani seseorang. Super ego menilai apakah suatu tindakan benar atau salah. Id mencari kesenangan, Ego menguji realitas, dan super ego berusaha menjadi sempurna. Super ego menggabungkan semua tindakan yang menyebabkan anak dihukum atau ditegur dan semua tindakan yang menyebabkan anak diberi ganjaran.







SINOPSIS
1. Pudarnya Pesona Cleopatra karya Habiburrahman El Shirazy
2. Kasidah-Kasidah Cinta karya Muhammad Muhyidin
3. Derap-Derap Tasbih karya Hadi S. Khuli
4. Perempuan Berkalung Surban karya Abidah El Khalieqy
5. Kepribadian Alina karya Suminaring Prasojo


1. Pudarnya Pesona Cleopatra karya Habiburrahman El Shirazy

Kisah ini berawal dari tokoh AKU harus menikah dengan gadis Jawa bernama Raihana pilihan ibunya yang sama sekali tidak dikenal. Gadis itu adalah putri teman ibunya dan merupakan janji tersirat untuk “besanan” antara dua orang sahabat yang sama-sama lulusan pesantren Mangkuyudan Solo. Terjadi pergulatan jiwa dalam diri AKU. Antara kecewa dan tidak mau mengecewakan sang ibu yang dicintainya. Pergulatan jiwa tersebut adalah Aku selama ini memimpikan untuk memiliki istri seorang gadis Mesir yang cantik (karena tokoh AKU adalah lulusan Perguruan Tinggi Mesir) dan tidak mau dijodohkan dengan gadis pilihan sang ibu yang sama sekali bukan hasratnya selama ini. Tetapi pernikahan itu berlangsung juga. Hari-hari diisi dengan kebencian yang mendalam dari si AKU terhadap Raihana yang dengan tulus mencintainya. Diam, acuh dan sinis selalu dilakukan AKU terhadap istrinya. Sedangkan manis, setia dan penuh cinta selalu dipersembahkan Raihana terhadap suaminya tercinta.
Pergolakan batin selalu tercipta dengan kebencian yang luar biasa. Hingga suatu saat AKU harus mengikuti acara pelatihan di tempat yang jauh dan Raihana sementara tinggal bersama ibunya sampai proses kelahiran buah cintanya berakhir. Aku bertemu dengan rekan sesama pelatihan yang sedang mengalami kehancuran akibat beristrikan seorang gadis Mesir yang juga cantik. Diceritakan bagaimana sulitnya menyatukan dua budaya yang berbeda, menjinakkan karakter istri yang keras tak bernorma sampai akhirnya harus menanggung kehancuran moril dan materil.
AKU menyadari bahwa dia melakukan kesalahan besar dalam kehidupan rumah tangganya. Dia sudah menyia-nyiakan istri cantik khas Indonesia yang selama ini setia, memberikan kelikhlasan dengan kasih sayang, dan sangat menyanjung suami-seperti yang biasa dilakukan istri-istri suku Jawa- bahkan kuat menghadapi sikap suami menyebalkan seperti AKU yang berlangsung selama setahun perkawinan mereka. AKU segera pulang dan berniat berlutut minta maaf di pangkuan sang istri yang mulia-mencintai suami karena Allah- serta berjanji akan menjadi suami yang mencintai karena Alah dengan segenap jiwanya. Tetapi Raihana memang bukan Cleopatra. Raihana hanya gadis cantik dari lokal. Tetapi memiliki kesalehan hati yang luar biasa. Dan hal itu telah disia-siakan oleh AKU yang harus menelan penyesalan besar karena belum sempat menyatakan maaf serta janji akan menjadi suami yang setia, menghormati istri dengan segenap hati dan menyanjungnya lebih dari kepada Cleopatra-yang telah pudar terkalahkan oleh bersinarnya pesona Raihana, karena Raihana meninggal saat AKU tidak disisinya.

2. Sinopsis Kasidah-Kasidah Cinta

Novel dengan latar berwarna coklat yang dipadukan dengan warna biru tersebut, ditulis oleh Muhammad Muhyidin dengan mengangkat tema religi dalam percintaan. Novel ini mampu menghanyutkan perasaan dan hati setiap pembacanya. Di dalamnya tertulis sebuah kisah tentang perjuangan cinta antara Sriwiji, seorang anak kepala dukuh Tempelsari yang sangat cantik, shalihah, dan sangat ramah dan Nugroho, sebagai seorang pemuda penghuni dukuh Randualas yang sombong, kejam, bejat, dan suka melakukan maksiat, yang hanya disaksikan oleh kesenyapan Pegunungan Kendeng. Percintaan antar kedua insan itu ternyata banyak mengalami rintangan, terutama dari Ki Patmo, orang tua Sriwiji, dan juga Ki Singo selaku orang tua Nugroho. Ki Patmo digambarkan sebagai kepala dukuh Tempelsari yang sangat shalih sedangkan Ki Singo kepala dukuh Randualas yang jahat namun sayang terhadap anaknya. Novel religi ini diawali dengan pengenalan kedua dukuh yang ada dalam cerita.
Tersebutlah dua dukuh dengan dua wajah. Wajah satu dukuh bercahaya indah bak bulan purnama, sementara dukuh yang satunya mempunyai wajah bak raksasa baratakala. Dukuh bagai bulan purnama ini bernama dukuh Tempelsati yang terbentang di sebelah utara Pegunungan Kendeng, yang dihuni oleh kurang lebih enam puluh tiga kepala keluarga. Tiap-tiap keluarga adalah laki-laki dengan wajah bercahaya, dan tiap-tiap keluarga mempunyai satu hingga dua orang anak; yang laki-laki berparas tampan dimana bisa menjadikan seorang gadis terperosok untuk jatuh hati kepadanya; sementara yang perempuan berparas cantik dan akan membuat bulan malu unuk bersinar di malam tanggal lima belas. Ki Patmo adalah kepala dukuh Tempelsari yang sangat shalih dan ia mempunyai seorang anak perempuan bernama Sriwiji, seorang anak kepala dukuh Tempelsari yang sangat cantik, shalihah, dan sangat ramah yang selalu dikagumi di desa tercintanya itu. Sampai-sampai kedatangan Sriwiji dari menuntuk ilmu Islam pun menjadi suatu acara besar dalam desanya itu.
Berbeda dengan dukuh Tempelsari, maka wajah batarakala adalah wajah dukuh yang satunya, yang terletak di Selatan Pegunungan Kendeng. Dukuh ini bernama Dukuh Randualas, dan dihuni oleh sekitar tujuh puluh lima kepala keluarga Dan apa yang bisa dikatakan melihat perkembangan dukuh Randualas ini, karena setiap pergantian purnama, setiap itu pula ada pendatang baru-kecuali hal ini adalah bagian dari rencana rahasia ilahi yang bekerja pada pendukuhan Randualas itu. Setiap pemuda dalam dukuh itu hanya bisa melakukan perbuatan maksiat aau kejahatan lainnya, seperti membunuh baik membunuh hewan ataupun bahkan membunuh anak manusia sekalipun. Mereka tak pernah henti-hentinya untuk sekedar memabukkan diri pada tengan malam. Ki Singo kepala dukuh Randualas yang jahat namun sayang terhadap anaknya, Nugroho. Sedangkan Nugroho sendiri digambarkan sebagai seorang pemuda penghuni dukuh Randualas yang sombong, kejam, bejat, dan suka melakukan maksiat,
Kisah percinataan anatar keduanya dimulai ketika Sriwiji bersama ketiga teman-temannya hendak pergi ke sebuah air terjun tetapi tanpa sengaja mereka melihat seekor rusa yang dengan ketakutannya lari terengah-engah, dan ternyata binatang itu sedang dikejar-kejar semalaman suntuk oleh pemuda-pemuda Randualas yang kejam, Sriwiji dan juga teman-temannya merasa iba pada binatang yang tak bersalah itu. Tetapi tanpa disengaja ternyata kejadian itu menjadi awal pertemuan antar keduanya, Nugroho yang awalnya ingin membunuh binatang itu, hanya dapat terdiam menyaksikan wajah Sriwiji dengan kerudungnya yang bercahaya. Pertemuan tersebut sotak membuat mereka tak bisa melupakannya. Disinilah awal kiah “Kasidah-Kasidah Cinta” Sriwiji dan Nugroho.
Sejak kejadian itu, baik Nugroho ataupun Sriwiji hanya dapat membayangkan wajah keduanya. Setiap malammenjemput hari-hari Nugroho, ia selalu memandangi gelapnya langit dimalam hari dengan wajah Sriwiji yang terus mengikutinya. Tentunya hal tersebut membuat orang tua Nugroho menjadi terheran-heran akan perubahan putra yang seharusnya menjadi penerus ayahnya itu. Nugroho putra Ki Singo yang kejam jatuh hati pada Sriwiji yang adalah putri dukuh Tempelsari yang sangat cantik dan shalih. Nugroho terpikat oleh kecantikan Sriwiji sehingga ia tak mampu berkata apa-apa saat bertemu Sriwiji. Tak dapat dipungkiri pula wajah tampan Nugroho dapat menyita pikiran Sriwiji. Setiap malam pun wajah Sriwiji dengan setianya selalu menghampiri pikiran Nugroho.
Namun cinta mereka terhalang oleh kebiasaan dukuh masing-masing. Randualas yang kejam dan Tempelsari yang sangat taat pada agama. Sriwiji dianggap telah mencoreng nama baik dukuh Tempelsari karena tertangkap basah berduaan dengan Nugroho di puncak gunung Kendeng. Mereka dituduh berzina, padahal di sana Nugroho sedang belajar agama pada Sriwiji. Karena dibantu sahabatnya dan ibunya Sriwiji bisa pergi dari dukuh karena pada saat itu dukuh Tempelsari dan Randualas tengah berada dalam peperangan. Beberapa lama kemudian Nugroho menyusul Sriwiji ke rumah Kyai Muchtar. Di sanalah mereka menikah dan akhirnya Sriwiji pun hamil.
Peperangan kedua dukuh semakin menjadi-jadi, kepala dukuh Randualas disekap warga dukuh Tempelsari dan begipun sebaliknya kepala dukuh Tempelsari ditawan oleh warga Randualas. Mendengar hal itu Nugroho dan Sriwiji yang tengah mengandung sembilan bulan kembali ke dukuh masing-masing untuk menyelamatkan keduanya. Namun di sana mereka dianggap sebagai pengkhianat sehingga keduanya kabur dan dikejar hingga ke puncak gunung Kendeng. Sriwiji yang kelelahan berlari akhirnya melahirkan anaknya di sana meninggal setelah mengadzani anaknya yang baru lahir. Beberapa lama kemudian Nugroho datang dengan bersimbah darah dari dadanya dan menadzani anaknya yang berada di sisii istrinya yang telah meninggal. Kemudian Nugroho pun meninggal.
Jasad keduanya dimakamkan di puncak gunung Kendeng oleh warga kedua dukuh tersebut. Begitupun anak dari Sriwiji dan Nugroho yang diberi nama Lanang Randusari diasuh oleh kedua dukuh. Kedua dukuh tersebut pun menjadi rukun dan damai.



3. Sinopsis Derap- Derap Tasbih
Cinta adalan anugerah terindah dari Illahi. Sebagai muslim atau muslimah, seajibnya mensyukuri anugerah cinta dengan cara-cara elegan, cantik dan beriman. Sayang wardah, putrid kyai pengasuh pesantren yang kesohor kealimannya, gagal mengelola gelegar cintanya pada fatih, santri pengarang kreatif dan sekaligus anak asuh keluarga terasebut. Bahkan dengan emosi membara, wardah berjuang untuk membuktikan pada fatih bahwa tak sepatutnya fatih menolak cintanya karena ia putrid kyai besar, cantik dan berpengaruh.
Masalah pun datang ketika orang tua wardah menjalankan haji, ketika itulah wardah telah berkenalan dengan laki-laki yang bernama Hendra. Hendra seorang guide. Orangnya tampan, sopan, dan juga pintar. Pandai cas cis cus. Selain mahir inngris, ia juga bisa mandarin dan jepang. Wardah telah tertipu dengan segala bujuk rayu, serta omongan manis dari Hendra. Wardah begitu mencintai hendra. Sedangkan dari hendra sendiri ia tahu bahwa wardah masih begitu polos ehingga mudah terjebak oleh bujuk rayunya. Ia sama sekali tidak mencintai wardah.
Karena telah percaya kepaa hendra , akhirnya wardah memberikn semua yang dimilikinya termasuk kehormatannya. Meskipun pada awalnya wardah meraa sedih dan terpukul tapi mendengar janji manis ia merasa senang dan bahagia. Pagi hari sebelum ada kegiatan di pesantren wardah telah pegi meninggalkan rumah. Ia dijemput oleh hendra. Oleh hendra, wardah diajak ke Bali selama 5 hari. Sepulang dari Bali mereka pulang menggunakan kereta api. Sesampainya di stasiun kereta api Surabaya, hendra meninggalkan wardah dengan alasan mau menelpon teman. Hendra membawa dompet serta hp wardah. Setalah sekian jam ditunggu hendra tidak kembali. Barulah wardah sadar bahwa hendra telah kabur. Hati wardah hancur, ia merasa bersalah dan berdosa, ia merasa tidak pantas hidup. Karena keputus asaan wardah akhirnya wardah nekat bunuh diri. Wardah melompat ketengah rel tapi berhasil ditarik oleh bapak-bapak dan akhirnya ia selamat dan ditolong serta dirawat oleh ibu hartati.
Peristiwa buruk yang dialami oleh wardah membuat fatih merasa sangat bersalah kepada kyai yang amat dicintai dan dihormatinya. “Abah, saya bersedia ” suara fatih memecah kehamparan. Suara iu muncul tiba-tiba . fatih tidak sanggup untuk menahannya. Fatih hanya bisa merasakan Nyai Badriyah menatap fatih. Kiai Sahal termangu mencerna ucapan anak angkatnya.
Meskipun fatih mau bertanggung jawab atas kehamilan wardah dan ia mau menikahi wardah. Tetapi oleh kedua orang tua wardah mereka tidak boleh menikah. Karena abah tahu bahwa fatih tidak mencintai wardah. Dan akhirnya demi kebaikan wardah, wardah dititipkan di rumah bibinya di Jakarta yaitu bi Lutfiah dengan tujuan agar jiwa dan batin wardah tenang.

4. Sinopsis novel Perempuan Berkalung Sorban
Novel ini mengisahkan tentang pengorbanan seorang perempuan, seorang anak kyai Salafiah, sekaligus seorang ibu dan istri. Annisa seorang perempuan dengan pendirian kuat, cantik, dan cerdas. Anisa hidup dalam lingkungan keluarga kyai di pesantren Salafiah Putri Al Huda, Jawa Timur yang konservatif. Baginya ilmu sejati dan benar hanyalah Al- Qur’an dan Sunnah. Buku modern dianggap menyimpang
Dalam pesantren Salafiah, putri Al-Huda diajarkan bagaimana menjadi seorang perempuan muslim dimana pelajaran itu membuat Annisa beranggapan bahwa islam membela laki-laki, perempuan sangat lemah dan tidak seimbang. Tapi protes Annisa selalu dianggap rengekan anak kecil. Hanya Kudhori paman dari pihak ibu, yang selalu menemani Annisa, menghiburnya sekaligus menyajikan dunia yang lain bagi Annisa. Diam-diam Annisa menaruh hati kepada Kudhori. Tapi cinta itu tidak terbalas karena Kudhori menyadari dirinya masih ada hubungan dekat dengan keluarga kyai Hanan, sekalipun bukan sedarah. Hal itu membuat Kudhori selalu mencoba membunuh cintanya. Sampai akhirnya Kudhori melanjutkan sekolah ke Kairo. Secara diam-diam Annisa mendaftarkan kuliah ke Jogja dan diterima tetapi Kyai Hanan tidak mengijinkannya, dengan alasan bisa menimbulkan fitnah. Ketika seorang perempuan belum menikah berada jauh dari orangtua. Annisa merengek dan protes dengan alasan ayahnya.
Akhirnya Annisa dinikahkan dengan Samsudin, seorang anak dari Kyai dari pesantren Salaf terbesar di Jawa Timur. Sekalipun hati Annisa berontak tapi pernikahan itu dilangsungkan juga. Kenyataannya Samsudin menikah lagi dengan Kalsum. Harapan untuk menjadi perempuan muslimah yang mandiri bagi Annisa seketika runtuh. Annisa cerai dari Samsudin, dalam kiprahnya Annisa dipertemukan lagi dengan Kudhori, keduanya masih sama-sama mencintai. Pada awalnya mereka tidak mendapat restu dari orangtua Annisa, Kudhori membuktikan kepada kedua orangtua Annisa bahwa dia benar-benar mencintai Annisa. Pengorbanan yang telah mereka lakukan selama ini ternyata tidak sia-sia, mereka mendapat restu dari orangtua Annisa dan menikah, mereka hidup bahagia dalam berumahtangga. Setelah penantian yang sangat panjang, mereka mendapatkan seorang momongan yang sangat lucu dan diberi nama Mahbub. Tapi kebahagiaan yang mereka rasakan tidak berlangsung lama, Kudhori meninggal karena kecelakaan.

5. Sinopsis novel Kepribadian Alina
Alina adalah seorang gadis muda, yang sangat mencintai seni. Alina juga sangat senang menulis. Alina dibesarkan dalam keluarga kaya (ningrat) di kampung lautan selatan (cilacap). Keinginan Alina untuk belajar seni sangat ditentang keras oleh orangtua Alina, terutama ayahnya. Ayah Alina beranggapan bahwa belajar seni itu tidak akan mendatangkan manfaat bagi hidup Alina kelak. Ayah Alina sangat keras kepala dan selalu betindak kasar terhadap kakak, adik, ibu Alina, dan juga terhadap Alina sendiri. Hal itu sudah sering dialami dan disaksikan Alina sejak masih kecil dulu. Semua pengalaman hidup yang dilalui Alina, baik itu pengalaman dimasa Alina kecil hingga dimasa Alina dewasa menjadikan alina tumbuh sebagai manusia dengan kepribadian yang saling bertabrakan. Alina adalah sosok orang yang penyayang, lembut hati, sulit berkompromi, keras, mandiri, dan sulit mempercayai orang lain.
Pertengkaran Alina dengan ayahnya membuat Alina pergi meninggalkan keluarganya. Ayah Alina tidak pernah setuju dengan keputusan Alina untuk belajar seni. Merasa dikekang dan tidak bebas oleh sikap keras ayahnya itu, Alina pun menyetujui permintaan buliknya untuk tinggal bersamanya di Yogyakarta. Melalui buliknya Alina belajar untuk hidup mandiri. Di Yogyakarta selain membantu buliknya mengelola toko batik, Alina juga dikuliahkan buliknya ke Institut Seni, Sesuai dengan bakat dan Alina selama ini. Bulik Alina sangat sayang, mengerti, dan memahami Alina, karena kasih sayang itulah Alina bertekad di dalam hati untuk bisa membuktikan pada ayahnya bahwa ia dapat hidup mandiri meskipu dengan belajar seni. Kebahagiaan Alina dan buliknya tidak berlangsung lama. Bulik Alina yang paling mengerti dan memahami diri Alina dipanggil oleh Yang Maha Kuasa, jauh Alina dapat membalas akan semua jasa-jasanya selama ini padanya. Alina sangat terpukul dengan kejadian itu. Sejak kepergiaan buliknya, Alina pun memutuskan untuk pergi sementara waktu untuk mencari pengalaman ke Jakata. Ia ingin menghilangkan kepenatan hidup yang dialaminya selama ini. Alina memutuskan untuk menyerahkan pengelolaan toko buliknya itu kepada kakakda adiknya Destin dan Laras.
Selama tiga tahun di Jakarta, Alina pun menjadi orang yang terkenal lewat karya-karyanya. Alina selalu aktif dalam setiap organisasi, termasuk itu organisasi yang menyangkut harkat dan martabat kaum wanita. Pertemuan Alina dengan Reyssa seorang gadis lesbian dalam orgsanisasi “ Bunga Sejati”, dalam antara pementasan drama teater dengan tema: “kekerasan dalam perempuan “membuat Alina memiliki seorang teman. Reyssa adalah gadis tomboy yang sangat keras dalam memperjuangkan hak-hak wanita, dan Alina sangat sepaham dengan Reyssa mengenai hak itu. Alina tidak pernah merasa jijik dengan Reyssa, meskipun Alina tahu dan mengerti bahwa Reyssa seorang gadis lesbian. Alina justru menjadikan Reyssa sebagai sahabat sejati, sebab Reyssa dapat diandalkan atau dijadikan Alina tempat untuk curhat ataupun bertukar pikiran di saat Alina mengalami jalan buntu dalam menyelesaikan masalah.
Alina tela mendapatkan segala apa yang di cita-citakannya selama ini. Alina pun telah membuktikan pada kedua orangtuanya, termasuk ayahnya bahwa ia dapat hidup mandiri tanpa bantuan mereka. Akan tetepi, semua yang diperoleh Alina selama ini belum lah cukup untuk membuat hati atau batin Alina merasa puas. Rasa kecewa (frustasi) selalu muncul menghantui hari-hari Alina apabila Alina teringat akan masa lalu masa lalu perjalanan hidupnya, yaitu masa lalu yang penyebab Alina menjadi benci pada laki-laki karena bersikap keras dan kasar terhadap perempuan, masa lalu yang membuat masa lalu Alina merasa tidak berdaya dan tidak mempunyai pegangan sewaktu kekasihnya Biru juga memutuskan untuk mencampakannya, dan melepas komitmen yang mereka ucapkan sewaktu mereka masih menjalin hubungan kisah kasih asmara, masa lalu yang membuat Alina selalu teringat atau terbayang akan orang-orang yang Alina sayangi(ayahnya, buliknya, dan sahabatnya Reyssa) yang telah pergi meninggalkannya untuk memenuhi panggilan Yang Maha Kuasa, dan masa lalu keluarga Alina yang tidak pernah memberikan sedikit pun keharmonisan dan kebahagiaan pada dirinya, kakak-kakaknya, dan juga adiknya .Semua itu menyebabkan Alina menjadi frustasi.
Alina selalu dikejar-kejar oleh bayang-bayang masa kelam hidupnya itu dan bayang itu seakan-akan menjadi teman setia yang selalu siap sedia menggerogoti tubuhnya. Dalam menjalani kehidupan, Alina berhadapan dengan berbagai konflik / pertentangan batin, baik pertentangan terhadap dirinya sendiri maupun pertentangan atas reaksi terhadap lingkungan sekitarnya. Di dalam diri Alina terkadang timbul persepsi negatif tentang makna kehidupan yang dijalani Alina selama ini. Dari berbagai fenomena yang dialami Alina muncullah kekuatan mental dan pemahaman baru tentang cara memaknai kehidupan didalam diri Alina sendiri. Karena terus dirundung berbagai konflik, akhirnya telah menghasilkan perubahan sikap pada diri Alina. Ia pun akhirnya larut dengan obat-obatan antidepresan untuk menekan rasa frustasinya. Selain meminum obat-obatan antidepresan Alina juga selalu rutin konsultasi dengan psikiater di rumah sakit jiwa. Kini, jiwa Alina benar-benar terbelenggu akibat obat-obatan antidepresan tersebut. Apa yang dilakukan oleh Alina terhadap dirinya adalah sebagai bentuk pelarian dari lingkungan keluarga dan lingkungan sekitar yang selalu menghimpit hati dan pikirannya. Ketergantungan Alina dengan obat antidepresan membuat Alina tidak mampu untuk berkarya menjadi seorang penulis seperti dulu lagi.















III. PEMBAHASAN
A. Penggambaran perwatakan tokoh utama pada kelima Novel Angkatan Tahun 2000-Sekarang Dengan Menggunakan Pendekatan Psikologi

Berdasarkan pengamatan yang telah kami lakukan terhadap novel angkatan 2000-sekarang diantaranya:
1. Perempuan Berkalung Surban karya Abidah El Khalieqy
2. Derap-Derap Tasbih karya Hadi S. Khuli
3. Kepribadian Alina karya Suminaring Prasojo
4. Pudarnya Pesona Cleopatra karya Habiburrahman El Shirazy
5. Kasidah-Kasidah Cinta karya Muhammad Muhyidin
Berdasarkan pendekatan psikologis, Renne Wellek dan Werren mengemukakan bahwa analisis psikologis berhubungan dengan kejiwaan tokoh utama. Dalam kelima novel yang kami pelajari, maka dapat disimpulkan bahwa novel-novel angkatan 2000- sekarang sangat tepat dikaji dengan pendekatan psikologis. Kejiwaan tokoh utama dalam kelima tokoh yaitu, Anisa pada novel Perempuan Berkalung Surban, Wardah pada novel Derap-derap Tasbih, Alina pada novel Kepribadian Alina, Sriwiji pada novel Kasidah-kasidah Cinta, dan tokoh Aku pada novel Pudarnya Pesona Cleopatra sangat mendominasi cerita dari kelima novel tersebut.
Tokoh Anisa digambar sebagai wanita yang soleh, taat beragama, patuh pada orang tua, tapi memiliki pendirian yang kuat untuk maju dan berkembang. Anisa memiliki pemikiran-pemikiran yang modern. Dia adalah sosok yang pantang menyerah untuk memperoleh persamaan hak wanita. Anisa sangat tertekan berada di pesantren. Karena dalam pesantren tersebut diajarkan bagaimana menjadi seorang perempuan muslim, dimana pelajaran itu membuat Annisa beranggapan bahwa Islam membela laki-laki, dan perempuan dianggap sebagai makhluk yng lemah dan tidak berhak mendapatkan pendidikan yan lebih tinggi. Sehingga ia mengalami pergolakan batin dan berusaha melakukan pemberontakan.
Tokoh Wardah dalam Derap-derap Tasbih ini merupakan anak seorang Kiai pengasuh pesantren yang tersohor. Dikisahkan bahwa ia mencintai Fatih, anak asuh keluarganya. Namun, cintanya bertepuk sebelah tangan dan hal itu membuat Wardah dendam kepada Fatih hingga frustasi dan akhirnya ia terjerembab kedalam kemaksiatan.
Tokoh Alina digambarkan sebagai manusia yang tumbuh dengan kepribadian yang saling bertabrakan: penyayang, lembut hati, sulit berkompromi, keras, mandiri, dan sulit mmpercayai orang lain. Alina sejak kecil sering melihat kekerasan yang dilakukan ayahnya terhadap ibunya dan Alina sering dikecewakan oleh laki-laki yang ia sukai. Hal tersebut selalu membayangi kehidupan Alina hingga akhirnya ia mengalami pergolakan batin dan berakhir dengan menggunakan obat-obatan antidepresan untuk menekan frustasinya.
Tokoh Aku (Suami Raihana) mengalami pergolakan ketika si aku dijodohkan dengan gadis jaw yang bernama Raihana padahal si aku terobsesi untuk memiliki istri seorng gadis Mesir. Dan ketika si aku mulai menyadari bahwa Raihana merupakan seorang istri yang setia dan memiliki kesolehan hati yang luar biasa, ia ingin merubah sikapnya dan meminta maaf pada raihana serta mau meneria Raihana menjadi istrinya. Namun, si aku terlambat menyadarinya karena sebelum niatnya tersebut dapat terpenuhi raihana telah meninggal dunia.
Sriwiji adalah putri dukuh tempelsari yan sangat cantik dan soleh, Nugroho putra dukuh randu alas terpikat oleh kecantikan Sriwiji, sehingga ia tak mampu berkata apa-apa saat bertemu dengan Sriwiji. Tak dapat dipungkiri pula wajah tampan Nugroho dapat menyita pikiran Sriwiji. Namun cinta mereka terhalang oleh kebiasaan dukuh masing-masing, Randualas yang kejam dan Tempelsari yang taat pada agama. Sriwiji dianggap telah mencoreng nama baik dukuh Tempelsari, karena tertangkap basah berduaan dengan Nugroho dipuncak gunung Kendeng. Mereka dituduh berzina, padahal disana Nugroho sedang belajar agama pada Sriwiji. Kesalahpahaman itu membuat dukuh Randualas dan Tempelsari bermusuhan yang akhirnya terjadilah peperangan.
Didalam kelima novel tersebut mengangkat tema yang sama sehingga menimbulkan kesan monoton. Karena kelimanya sama-sama mengungkapkan tentang masalah cinta, hanya saja berbeda dalam gaya penceritaannya. Pada kelima novel para tokoh mengalami knflik batin. Konflik atau tekanan batin tersebut penyebabnya berbeda-beda. Ada yang dari keluarga atau orang tua maupun dari orang lain. Penggambaran atau penyajian setiap peristiwa yang dialami para tokoh mampu menimbulkan emosi pembaca, dalam arti pembaca bisa melihat dan merasakan tekanan batin yang dialami tokoh.
Setiap tokoh dalam menyikapi masalah yang dihadapi berbeda-beda, meskipun ada yang mengalami tekanan batin, dia tetep menghadapi dan menjalaninya. Dalam artian tidak terpuruk pada keadaan. Serta ada yang tidak kuat menghadapi masalah tersebut, kemudian terpuruk.
Jika diamati para sastrawan Indonesia masih sulit menghilangkan kebiasaannya, yaitu “latah”. Jika ada sastrawan yang menulis novel dengan tema percintaan yang berkaitan dengan nilai religious, maka sastrawan lain akan mengikuti jejeknya. Dengan membuat karya sastra khususnya novel dengan tema yang mirip atau hampir sama. Tidak malah menciptakan tema yang baru, misalnya tentang pendidikan yang jarang ditemukan.
Semua tokoh utama dalam kelima novel ini mengalami konflik internal dan eksternal. Konflik internal dalm novel Perempuan Berkalung Sorban yaitu tokoh Anisa mengalami tekanan batin karena dijodohkan dengan laki-laki yang tidak dicintainya. Konflik disebabkan oleh frustasi. Frustasi terjadi bila gerak kearah tujuan yang diinginkan terhambat atau tertunda. Lingkungan fisik menimbulkan hambatan-hambatan dalam hidup.
Kelima novel ini cenderung didominasi dengan akhir yang tragis. Mulai dengan novel Derap-Derap Tasbih yang pada akhirnya tokoh utama (Wardah) yang hamil diluar nikah dan kekasihnya tidak mau bertanggung jawab. Novel Kasidah-Kasidah cinta, Sriwiji dan Nugroho meninggal dunia. Novel Wanita Berkalung Sorban, Anisa harus kehilangan suaminya karena Khudori akhirnya meninggal. Novel Kepribadian Alina, yang tokoh utamanya yaitu Alina diceritakan menjadi orang yang jiwanya tergantung pada obat-obatan antidepresan. Dan novel; Pudarnya Pesona Cleopatra yang menggambarkan akhirnya dengan sesuatu yang menyesakkan karena Si Aku harus menanggung penyesalan seumur hidup. Ia tidak sempat meminta maaf kepada Raihana yang telah terlanjur meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya.
Entah mengapa pengarang-pengarang novel tersebut mempunyai konsep yang sama dalam memberikan akhir cerita dengan sad ending. Mungkin pikiran mereka terkonsep kedalam satu hal yang sama karena novel-novel tersebut diciptakan dalam tahun jaman yang sama atau periode waktu yang sama. Konsep yang paling menonjol dalam kelima novel tersebut yaitu sebuah penderitaan yang diakibatkan oleh cinta dan oleh pengarang cinta digambarkan memiliki sisi gelap yang membawa kepedihan dan rasa sakit yang dalam, selain membawa kebahagiaan. Pengarang menyampaikan isi tersurat bahwa dalam menyelesaikan masalah jangan menggunakan emosi dan jangan terlalu terbawa dengan hati pada ssat sedang mengalami masalah tapi gunakan logika agar tidak menyesal dikemudian hari denagn akibat-akibat buruk yang akan terjadi.
Tokoh yang paling baik dalam mengatasi masalah yaitu tokoh Anisa dan Khudori karena walaupun hubungannya tidak direstui mereka tidak melakukan hal bodoh, mereka hanya terus menyakinkan kedua orangtua bahwa mereka benar-benar saling mencintai. Tokoh Aku dalam novel Pudarnya Cleopatra, ia dengan susah payah akhirnya dapat menyadari kesalahan yang selama ini ia lakukan dan berniat untuk memperbaikinya sedangkan Wardah ketika mengalami penolakan cinta langsung berpaling kepada laki-laki lain dan melakukan hal-hal yang dilarang agama sehingga membuatnya hamil diluar nikah. Sriwiji dan Nugroho setelah mendapat penentangan terhadap hubungan cinta mereka. Maka hadirlah keputusan untuk kawin lari dan hal itu merupakan sesuatu yang tidak baik. Dan Alina lebih memilih obat-obatan antidepresan sebagai pelarian dari masalah-masalah yang ia hadapi.
Berbagai cara pengarang memnggambarkan tokoh dan memberikan pemikiran-pemikiran yang berbeda-beda pada setiap tokoh dalam menghadapi masalah. Masing–masing tokoh merupakan gambaran dari sebagian kecil dari kepribadian, sikap, pandangan, dan pendapat pengarang yang dilekatkan. Ada yang dengan baik mampu menggambarkannya.
Denagn Id pengarang-pengarang mampu memunculkan konflik atau masalah yang sangt menarik dan menimbulkan adanya rasa penasaran. Dengan ego pengarang menciptakan masalah yang berhubungan dengan realita dan penyelesaian masalah yang dapat diterima oleh masyarakat sedangkan dengan super ego, pengarang mencari hal-hal yang dapat dijadikan sebagai akar dari permasalahan.
Dalam hal ini Suminaring Prasojo lah yang paling berhasil melakukannya, ia berhasil menciptakan masalah-masalah yang dekat dengan kehidupan masyarakat dan penyelesaian yang banyak dipikirkan oleh masyarakat. Namun, ia membumbuinya dengan kejutan-kejutan yang dapat membuat pembaca bertanya-tanya dan ingin mengetahui kelanjutan cerita. Sehingga pembaca kadang merasa dipermainkan oleh pikirannya sendiri, tafsiran atau tebakan yang kadang-kadang benar dan kadang-kadang bertolak belakang.

B. Hubungan novel tahun 2000-2009 dengan realita kehidupan
Berdasarkan pengkajian pada kelima novel angkatan tahun 2000-2009, maka kelima novel ini mencerminkan realita kehidupan yang terjadi dalam lingkup tahun 2000-2009. Sangat terlihat sekali bahwa penulis banyak terpengaruh dengan realita kehidupan yang ada. Problem-problem yang terjadi di masyarakat pada sekitar tahun itu diangkat oleh kebanyakan penulis novel untuk dijadikan tema dalam karya mereka. Kelima novel ini mengangkat kehidupan percintaan remaja yang menghadapi berbagai macam problema beserta gejolak remaja serta respon masing-masing tokoh dalam menghadapi problem yang hampir sama. Berdasarkan pengamatan yang kami lakukan, bahwa pada tahun 2000-2009 kehidupan remaja didominasi dengan permasalahan yang meliputi: 1.)masalah percintaan remaja. Diantaranya: cinta segitiga, perjodohan, pengkhianatan, cinta bertepuk sebelah tangan, dll. 2.)penuntutan persamaan gender. 3.) konflik keluarga yang broken home.
Pengarang dari kelima novel ini mengambil pengalaman-pengalaman hidup yang pernah ia alami dan lihat dari lingkungan masyarakat sekitar. Melihat dari fakta yang ada didalam lingkungan masyarakat pada jaman ini terlihat bahwa kehidupan mereka khususnya kaum remaja lebih menitikberatkan pada kisah percintaan mereka daripada masalah yang berhubungan dengan pendidikan. Modernisasi jaman berdampak pada kemajuan dan perkembngan teknologi sehingga konflik-konflik yang ada pada diri seseorang juga semakin kuat dan beraneka ragam.
Sangat terlihat bahwa pada tahun 2000 sampai sekarang, permasalahan lebih banyak didoinasi oleh kaum remaja. Kehidupan remaja yang selalu mengikuti trend masa kini. Banyak yang belum megetahui dampak yang akan ditimbulkan dari apa yang mereka perbuat. Mereka hanya melakukan sesuatu berdasarkan keinginan untuk memili kesamaan dengan temannya atau hanya sekedar ikut-ikutan dan tidak ingin dibilang ketinggalan jaman atau kuper.
Akibat dari konflik yang terjadi banyak orang yang melakukan hal-hal yang tidak masuk akal seperti memakai narkoba, minum minuman keras, bergaul dengan orang-orang yang tidak baik hingga bunuh diri. Padahal semua yang mereka lakukan akan kehilangan masa depan serta kesempatan untuk meraih cita.
Dari kelima novel ini, novel Kepribadian Alina karya Suminaring Prasojo merupakan novel yang paling dekat dengan realita. Cerita yang digambarkan lebih banyak bercerita tentang kehidupan nyata yang sering ada didalam masyarakat yang selama imi sering pula dijumpai oleh pengarang. Ceritanya lebih masuk akal dibandingkan dengan keempat novel lainnya, konflik tentang kekerasan rumah tangga dan menyebabkan anak menjadi korban sehingga menjadi frustasi dan lari ke hal-hal negatif sering kita jumpai di jaman sekarang.
Novel yang paling lemah unsur realitanya yaitu novel Kasidah-kasidah cinta karya Muhammad Muhyidin. Paling lemah disini berarti bahwa cerita di dalam novel tersebut kurang atau tidak masuk akal, kemungkinannya kecil untuk terjadi dijaman sekarang. Novel ini menceritakan tentang dua desa yang satu penuh orang-orang yang suka membunuh dan yang satu lagi penuh dengan orang-orang yang taat agama. Jaman sekarang sebuah desa dihuni dengan bermacam-macam karakter sifat dan karakter, ada yang baik ada pula yang jahat. Tidak mungkin jika sebuah desa hanya berisi pembunuh saja. Kalau pun ada pasti telah dimusnahkan oleh aparat hukum.
Karya sastra memang tidak pernah bisa jauh dari kehidupan sekitar karena ide-ide berasal dari pengalaman, penglihatan, dan pendengaran dari lingkungan sekitar. Karya yang tidak masuk akal sama sekali seringkali membuat pembaca merasa kalu imajinasi pengarang terlalu berlebihan dan jika tidak diimbangi dengan penceritaan yang menarik maka akan menimbulkan kebosanan. Namun jika dimbangi dengan penceritaan yang menarik, hal-hal yang terlalu imajinatif tersebut dapat membuat pembaca untuk ikut berimajinasi dengan peengarang. Seperti yang dilakukan oleh Hadi S. Khuli, masalah yang diangkat memang agak jauh dari kenyataan jaman sekarang tetapi dengan caranya bercerita yang mengalir membuat pembaca merasa nyaman dan ingin ikut dengan pikiran pengarang menuju dunia yang ada didalam cerita.



















DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu. 1983. Psikologi Umum. Surabaya: Bina Ilmu.
Atkinson, Rita dkk. 1983. Pengantar Psikologi. Jakarta: Erlangga.
Endaswara, Suwardi.2008. Metode Penelitian Sastra. Yogyakarta: Media Pressindo.
Khuli, Hadi S. 2007. Derap- Derap Tasbih. Yogyakarta: Diva Press.
Khalieqy, Abidah El. 2003. Perempuan Berkalung Surban. Yogyakarta: Arti Bumi Intaran.
Muhyidin, Muhammad. Kasidah-Kasidah Cinta.
Pradopo, Rachmat Djoko. 2007. Prinsip-Prinsip Kritik sastra. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
________. 2008. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Prasojo, Suminaring. 2008. Kepribadian Alina. Yogyakarta: Diva Press.
Ratna, Nyoman Kutha. 2009. Teori, Metode dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Shirazy, Habiburrahman El. 2008. Pudarnya Pesona Cleopatra. Yogyakarta: Republika.
Sumarjo, Yakob. 1982. Masyarakat dan Sastra Indonesia. Yogyakarta: Nur cahaya.

MENULIS KARYA ILMIAH

Menulis Karya Ilmiah
Oleh Ari Dwi Puspita (Universitas Ahmad Dahlan)
a. Judul
b. Abstrak
c. Pendahuluan
d. Isi
e. Penutup
f. Daftar pustaka
g. Ucapan terimakasih

A. Judul
· Pernyataan (statement)
· Esensi masalah
· Mengambarkan seluruh isi
· Jelas
· Memilki daya tarik yang kuat
· Pilihan katanya tepat
B. Abstrak
Merupakan ringkasan(+/- 200 kata)
Abstrak harus merangkum isi tulisan
C. Pendahuluan
· Latar belakang ; bagian ini memberikan rasional mengapa masalah tersebut penting untuk ditulis, perlu diketengahkan gagasan umum tentang apa yang ditulis. Pendahuluan harus dapat dipahami oleh orang awam tetapi jangan mengabaikan untuk menyatakan secara sangat spesifik apa yang penting dalam tulisan tersebut. Alasan memilih judul itu apa. Contoh; Menurut saya….
· Identifikasi masalah ; Masalah-masalah apa saja, disebutkan.
1. Rumusan Masalah ; Dengan kalimat Tanya/kalimat berita.
2. Batasan Masalah ; Membatasi masalah agar tidak melebar dalam analisinya
3. Tujuan Masalah ; Untuk mendeskriptifkan/menggambarkan atau mengetahui
4. Manfaat penelitian ;
a. Manfaat Teoritis (Berkaitan dengan teori/contoh: untuk mengembangkan teori).
b. Manfaat Praktis (Berkaitan dengan penerapannya dimasyrakat)
D. Isi
· Data-data atau fakta-fakta, Pemecahan masalah, Analisis, Pembahasan.
· Bagian ini merupakan bagian yang paling penting dalam sebuah karya tulis.
· Baian isi memuat pembahasan, analisis, dan pendirian penulis tentang permasalahan yang dibahas.
· Dalam bagian ini juga bagian-baian lain hubungan antaralinea/antarparagraf harus dijaga agar tetap padu/logis.
E. Penutup
Kesimpulan dan saran ;
· Diusahakan ada unsur “penyengat” aspek tidak terduga.
· Klimaks, jika pengungkapannya kronologis.
F. Daftar Pustaka
G. Ucapan Terimakasih